Ada Tiongkok di Balik Kudeta Zimbabwe?

Sabtu, 02 Desember 2017 | 16:55
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Foto : AP

INDOPOS.CO.ID - Lengsernya Robert Mugabe dari kursi presiden Zimbabwe menjadi angin segar bagi Republik Rakyat Tiongkok. Pasalnya, beberapa tahun terakhir hubungan Beijing dengan presiden tiga dekade itu terus memburuk.

Presiden baru, Emmerson Mnangagwa lebih dinilai kooperatif terhadap kepentingan Tiongkok. Kini, Negeri Tirai Bambu dapat menancapkan kukunya semakin dalam di Benua Hitam.

"Beijing sudah lama disulitkan Mugabe dan istrinya yang boros. Kini mereka akan lebih dekat dan terbuka saat Zimbabwe dipegang Mwangagwa," jelas pengamat think tank India Pinak Chakravarty.

"Tiongkok mungkin secara tidak langsung mendukung militer Zimbabwe dan Mnangagwa untuk menurunkan Mugabe dan klannya. Ini sudah sejalan dengan keinginan Xi (Presiden Tiongkok Xi Jinping)," ujar Chakravarty.

Sejak Mugabe berkuasa pada 1980, Beijing sudah mulai menjalin kerja sama politik, militer dan diplomatik. Hubungan kedua pemimpin negara juga terus dijalin dengan serangkaian kunjungan kenegaraan.

Tiongkok pun berinvestasi besar-besaran di Zimbabwe untuk tembakau, intan dan industri permesinan. Tiongkok bahkan pernah mendukung Mugabe saat pemerintahannya menerima sanksi ekonomi dari Barat.

Pada 2008, Tiongkok pasang badan untuk Mugabe dengan memveto resolusi PBB yang ingin memberlakukan embargo senjata dan pembatasan pergerakan keuangan sang diktator.

Namun, semua berubah ketika Mugabe mulai menerapkan kebijakan nasionalisasi perusahaan asing. Langkah ini membuat Xi Jinping makin keki. Pasalnya, Mugabe tidak meminta saran atau memberikan pemberitahuan awal.

"Zimbabwe bergantung kepada investasi asing dan Tiongkok merupakan investor besar di sana. Hubungan kedua negara pun terus merenggang setelah Zimbabwe mengambil alih seluruh investasi permata dari Tiongkok," tulis laporan dari lembaga Think Tank Brookings pada 2016.

Kini, nampaknya masa depan Zimbabwe lebih cerah. Mnangagwa, yang pernah ikut pelatihan di Tiongkok, dianggap sebagai penerus yang lebih baik dari Mugabe.

Meski pun dia pernah menjadi tangan kanannya Mugabe, Mnagngagwa dinilai akan jauh lebih ramah kepada investor asing dan akan mengubah kebijakan nasionalisasi yang pernah dipakai Mugabe.

"Tidak lama Mugabe mengumumkan pengunduran dirinya, Kementerian Luar Negeri Tiongkok langsung mengirimkan ucapan selamat dan menyebut bahwa hubungan dua negara dalam kondisi yang baik. Mnangagwa diharapkan memberikan masa depan yang lebih cerah kepada hubungan bilateral kedua negara," ujar pengamat dari Project Syndicate Hannah Ryder. (rakyatmerdeka)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
50%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
50%