Buthaina, Korban Arab Saudi, Simbol Konflik Yaman

Sabtu, 09 September 2017 | 19:17
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
YATIM PIATU: Buthaina saat mencoba membuka matanya untuk melihat orang lain. (CNN)

INDOPOS.CO.ID – Dua pekan lalu sebuah serangan udara menghancurkan sebuah gedung apartemen di Yaman. Serangan yang berlangsung pada 25 Agustus itu menewaskan 16 orang. Dari belasan korban itu, ada satu keluarga yang tewas. Mereka terdiri atas ibu, ayah, dan lima anaknya.

Tetapi, ada seorang anggota keluarga itu yang selamat. Namanya Buthaina Muhammad Mansour al-Raimi. Foto-foto aksi penyelamatan Buthaina menjadi viral. Dalam foto itu terlihat Buthaina ditarik dari puing-puing dengan matanya tertutup rapat oleh memar.

Dan pekan ini, fotonya kembali hits. Sebuah media lokal mencoba mewawancarainya saat dia berada di ranjang rumah sakitnya. Mata Buthaina masih terpejam dan memar parah. Tetapi dia mencoba melihat siapa yang berbicara kepadanya dengan membuka sedikit mata kanannya. Foto ketika Buthaina membuka matanya dengan jarinya itu pun menyebar.

VIRAL: Beragam postingan dukungan untuk Buthaina.

VIRAL: Beragam postingan dukungan untuk Buthaina. (Twitter)

 

Warganet memberi dukungan dan mengucapkan doa sambil menirukan aksi Buthaina. Gadis kecil itu adalah sebagian kecil gambaran dari apa yang terjadi di Yaman. Konflik yang tidak banyak diekspos di media-media meanstream.

Dokter mengatakan tengkorak Buthaina retak dan banyak memar ke tubuhnya. ”Dia kehilangan seluruh keluarganya, sudah 10 hari sejak mereka meninggal dan dia masih bertanya kepada pamannya kapan orang tuanya akan mengunjunginya,” kata Yasser al-Ghori, kepala departemen gawat darurat rumah sakit yang merawat Buthaina.

Paman Buthaina, Ali al-Raimi mengatakan kalau dia tidak akan pernah bisa menggantikan ayah Buthaina. ”Tapi dia adalah anak perempuan saya sekarang dan selamanya. Kami berharap kerugian kami akan menyebabkan berakhirnya perang tiga tahun yang menghancurkan Yaman dan membunuh ribuan anak yang tidak bersalah,” katanya.

Sejak Maret 2015, Kantor Hak Asasi Manusia PBB telah mendokumentasikan sekitar 13.829 korban sipil, termasuk lebih dari 5.000 orang yang terbunuh. Konflik itu juga meninggalkan trauma mendalam untuk korban selamat.

Seperti Buthaina. Sang bibi mengatakan kalau keponakannya kerap terbangun sambil berteriak dan menangis saat malam. ”Sulit mengetahui apakah sumber penderitaan Buthaina adalah sakit fisik atau mimpi buruk tentang malam yang mematikan itu,” kata Samah al-Raimi.

Kampanye militer yang dipimpin oleh Arab Saudi terhadap pemberontak Houthi di Yaman telah memicu serangkaian krisis kemanusiaan. Menurut UNICEF, seorang anak meninggal setiap 10 menit di negara yang dilanda perang itu dari penyakit yang sejatinya bisa disembuhkan. Seperti diare, infeksi pernapasan, dan kekurangan gizi.

UNICEF mengatakan sudah terjadi krisis kemanusiaan terbesar di dunia di Yaman. Di sana juga ada wabah kolera terbesar di dunia. Ada lebih dari 600.000 kasus kolera yang diprediksi WHO.

Tetapi, konflik militer pun menimbulkan korban yang mengerikan. Pada minggu yang sama dengan serangan udara yang membunuh keluarga Buthaina, PBB memperkirakan bahwa 58 warga sipil telah terbunuh dalam serangan udara, termasuk 42 orang yang melakukan pemboman oleh pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi. Jumlah korban tewas bahkan lebih tinggi dari Juli lalu.

Arab Saudi pun telah mengakui serangan udara yang mematikan tersebut dan mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh "kesalahan teknis."

Para pendukung Buthaina di Yaman mengatakan bahwa mereka berharap bahwa rasa sakit gadis itu akan membuka mata seluruh dunia ke sebuah perang yang telah lama tidak diketahui oleh banyak orang. (tia/CNN/Reuters/JPC)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%