Maute Manfaatkan Anak-Anak dan Perempuan

Selasa, 05 September 2017 | 15:20
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Marinir Filipina bergerak maju melawan kelompok Maute di Kota Marawi. Foto: istimewa

INDOPOS.CO.ID - Militan Maute di Kota Marawi, Provinsi Lanao del Sur, Filipina, rupanya sudah kepepet. Anak-anak dan perempuan anggota keluarga mereka dipaksa ikut angkat senjata untuk melawan militer. Hal itulah yang membuat Maute tampak tetap kuat dan memiliki banyak pasukan meski sudah dikepung selama berbulan-bulan. Demikian klaim yang diungkapkan militer Filipina kemarin.

Sejak konflik di Marawi mencuat pada 23 Mei, ada 800 orang yang tewas dan 500 ribu orang terpaksa harus mengungsi. Mayoritas korban tewas adalah anggota militan Maute. ”Korban jiwa mungkin bakal lebih besar karena musuh kian putus asa,” ujar Kepala Militer di Mindanao Barat Letjen Carlito Galvez. Kemarin (4/9) serangan intensif ke Marawi dilakukan dari darat dan udara.

Galvez mengungkapkan, jika tanpa perempuan dan anak-anak yang dipaksa angkat senjata itu, jumlah militan Maute sudah sedikit. Berdasar keterangan orang-orang yang berhasil melarikan diri dari Marawi, ada 80 penduduk laki-laki yang dipaksa melawan militer Filipina (AFP). Maute juga masih memiliki 56 tawanan yang seluruhnya umat kristiani.

Presiden Filipina menargetkan pertempuran di Marawi selesai pada akhir tahun. Status darurat militer di seluruh kepulauan Mindanao juga selesai pada akhir tahun. Berbeda dengan Duterte, Galvez memiliki target yang berbeda. Dia yakin Marawi bisa direbut lebih cepat. Sebab, setiap hari, AFP bisa membebaskan sekitar 35 bangunan.

”Dengan tingkat rata-rata tersebut, sangat mungkin, dalam tiga pekan, kota itu akan dikuasai pemerintah sepenuhnya,” tegasnya. Namun, target tersebut tidak bisa dipegang begitu saja. Sebab, sebelumnya, semua target AFP untuk membebaskan Marawi meleset.

Sementara itu, berdasar informasi intelijen yang digalang dari dunia maya, terungkap bahwa Abdullah Maute tewas dalam serangan sebulan yang lalu. Abdullah dan Omarkhayam adalah pendiri kelompok militan Maute. Omarkhayam dan pemimpin militan negara Islam alias ISIS Asia Tenggara Isnilon Hapilon diyakini masih hidup dan ikut bertempur di Marawi.

”Tidak ada konfirmasi yang benar 100 persen sampai kami bisa melihat jenazahnya (Abdullah, Red). Tapi, kabar itu sudah cukup untuk memperkirakan dia telah tewas,” kata Galvez. Intelijen menggalang informasi dari unggahan di Facebook dan pembicaraan di Telegram tentang kematian Abdullah.  (Reuters/TheStar/sha/c16/any)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%