Bebaskan Mahasiswa Sumbar di Mesir, KBRI Kirim Lawyer

Jumat, 11 Agustus 2017 | 07:51
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID—Dua orang mahasiswa asal Sumbar yang ditahan otoritas keamanan Mesir sejak 1 Agustus 2017, hingga kemarin belum bisa ditemui pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo.

Dua mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo bernama Nurul Islami dari Kabupaten Limapuluh Kota dan Muhammad Hadi dari Kota Payakumbuh itu, tengah diupayakan pembebasannya oleh KBRI dari lokasi penahanannya di Kantor Kepolisian Kota Aga.

Duta Besar Indonesia di Kairo Helmy Fauzi menyebutkan, sehari setelah penangkapan terhadap Nurul dan Hadi, pihaknya langsung mengirim nota diplomatik ke Kementerian Luar Negeri Mesir dengan tembusan Kementerian Dalam Negeri dan Dinas Keamanan Nasional Mesir. ”Kami mempertanyakan penahanan dan keberadaan dua WNI tersebut,” kata Helmy saat dihubungi, kemarin (10/8).

Helmy mengatakan, kendati penahanan sudah dilakukan cukup lama, hingga saat ini pihaknya masih belum menerima notifikasi resmi dari aparat keamanan Mesir.

Dua staf KBRI Kairo juga telah berkunjung ke Samanud, tempat dua mahasiswa itu ditangkap, dan ke Kantor Kepolisian Kota Aga yang berdasarkan informasi tidak resmi merupakan tempat penahanan kedua mahasiswa itu.

”Namun jangankan dapat bertemu dengan para mahasiswa yang ditahan tersebut, KBRI meski telah berkunjung secara resmi, tidak memperoleh keterangan atau informasi dari aparat keamanan setempat terkait keberadaan mereka,” terang Helmy.

Dia menuturkan, saat ini pihaknya telah mendapat konfirmasi informal bahwa kedua mahasiswa tersebut benar ditahan di Kantor Kepolisian Kota Aga. Hal ini terus dikomunikasikan dengan pihak Kemenlu, Dinas Keamanan, dan aparat kemanaan Mesir.  ”Kami juga mengirim lawyer (pengacara) untuk membebaskan mereka,” ucapnya.

Menurut Helmy, besar kemungkinan kedua mahasiswa itu akan dideportasi. Sebelumnya, kata dia, KBRI telah mengeluarkan imbauan agar seluruh mahasiswa Indonesia untuk meninggalkan Samanud dan tidak lagi mondok.                       

Bahkan, kata Helmy, KBRI juga telah menawarkan bantuan untuk memfasilitasi pengambilan barang-barang milik mahasiswa Indonesia yang masih tertinggal di Samanud. Namun, para mahasiswa Indonesia tersebut menolak bantuan dan mengatakan bisa mengambil sendiri barang mereka yang tertinggal di sejumlah pemondokan di Samanud.

Helmy menjelaskan, umumnya madrasah tempat pengkajian agama di Samanud dipimpin dan diasuh oleh para sheikh atau ulama yang tidak berafiliasi dengan Al Azhar, dan bahkan dinilai berseberangan dengan pemerintah Mesir.

“Grand Sheikh Al Azhar sendiri telah mengimbau agar para mahasiswa yang selayaknya harus menimba ilmu di Al-Azhar dengan para ulama Al Azhar untuk meninggalkan Samanud dan tidak belajar ilmu agama dengan ulama non-Al Azhar di sejumlah madrasah di daerah tersebut,” jelas Helmy.  (and/rch/padang ekspres/ jpg)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%