Cara Industri Pornografi Jepang Menjebak "Artisnya", Begini Ceritanya...

Senin, 15 Mei 2017 | 19:06
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
MEMBONGKAR BOBROK: Kurumin Aroma. (Kurumin Aroma via The Guardian)

INDOPOS.CO.ID – Usaha untuk membongkar sisi gelap dunia pornografi di Jepang memang tidak mudah. Kazuko Ito, pengacara sekaligus sekjen Human Rights Now, menyambut hangat usaha polisi dalam membongkar jaringan porno dan industri seks komersial yang tidak berizin.

Namun sayangnya Jepang belum memiliki undang-undang mengenai itu. ”Perusahaan seolah mendapatkan imunitas. Di sini tidak ada undang-undang untuk menahan seseorang yang memaksa perempuan muncul di film porno. Dan tidak ada pengawasan pemerintah di industri itu. Tetapi, ini bukan hanya masalah hukum, Ini adalah pelanggaran HAM,” kata Ito.

Industri porno Jepang memang fantastis. Angkanya diprediksi mencapai USD 4,4 miliar dengan 20 ribu judul film yang dirilis setiap tahun. Sekitar seperempat judul itu ditujukan bagi penonton tua – refleksi kalangan manula yang semakin naik di Jepang.

Bagaimana industri ini menarik “bintangnya.” Biasanya, mereka mendekati remaja dewasa muda sampai awal usia 20an. Mereka di dekati dan dipuji habis-habisan. Para agency mengatakan kalau calon korban punya kharisma untuk sukses di dunia hiburan mainstream dan dipaksa segera menandatangani kontrak. Celakanya kontrak tersebut berisi pasal yang membuat mereka melakukan hal-hal erotis.

Jika korban menolak, produser akan mengancam dengan denda yang nilainya tidak masuk di akal. Atau, ada yang mengancam akan memberi tahu orang tua, teman, atau rekan mengenai “karir” baru mereka.

Dalam beberapa kasus, korban dibawa dan disekap di dalam kamar hotel atau tempat terpencil yang membuat mereka tidak bisa lari. ”Tidak ada kekerasan sebenarnya. Namun, banyak sekali tekanan dalam berbagai bentuk,” sambung Ito.

Kurumin Aroma, salah seorang korban yang terjebak industri pornografi Jepang mengaku tidak pernah membicarakan mengenai “karir” pornografinya. YouTuber yang memiliki lebih dari 15 ribu subscribers itu menyebutkan kalau agency yang menjebaknya mengatakan kalau Aroma adalah milik mereka. ”Saya tidak memiliki kebebasan dan tidak tahu kemana harus mencari bantuan. Saya terjebak.”

Aroma berhasil memblok penjualan dua DVD dari dua filmnya. Namun, beberapa cuplikan adegan Aroma bocor secara online. Setelah bertemu dengan Ito, Aroma baru berani membongkar praktek busuk itu.

”Saya takut untuk muncul tetapi saya tahu saya tidak sendiri. Akhirnya saya punya kontrol dan kekuatan. Dengan berbicara mengenai ini saya sadar kalau bukanlah saya yang salah selama ini,” tegasnya. (theguardian/tia)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%