Referendum Turki dan Kemenangan Erdogan

Sistem parlementer akan berubah menjadi presidensial

Senin, 17 April 2017 | 22:54
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan

INDOPOS.CO.ID - Hasil sementara referendum Turki menunjukkan,  Presiden petahana Recep Tayyip Erdogan bakal kembali berkuasa. Lebih dari  51 persen pemilih mendukung amandemen.

Dengan keputusan ini, amandemen konstitusi gagasan Erdogan bakal lolos. Konsekuensinya, tokoh Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) itu bakal memiliki kekuasaan besar. 

Selama ini kekuasaan berada di tangan parlemen dan urusan negara berada di tangan perdana menteri (PM). Jabatan presiden tidak terlalu memiliki kuasa. Namun, dengan perubahan konstitusi, kekuasaan parlemen menjadi minoritas. 

Sistem parlementer akan berubah menjadi presidensial. Erdogan mungkin bisa menjabat sebagai pemimpin negara hingga 2029.

Hasil tersebut disambut gembira rakyat Turki. Mereka turun ke jalan dan bergembira. Sementara, tokoh-tokoh penentang amandemen berencana melayangkan gugatan bila hasil resmi benar-benar menyatakan dukungan kepada amandemen. Hasil resmi rilis terhitung 12 hari setelah referendum berlangsung hari ini, Senin (17/4).

Erdogan, kalangan populis pernah melarang partai Islam berdiri, dan sudah berkuasa sejak 2003 tanpa rival sepadan. Turki di bawah kepemimpinan Erdogan menjadi negeri dengan pertumbuhan industri tercepat di Eropa dan Timur Tengah.

Dia selalu mengatakan kalau Turki butuh perubahan untuk mengakhiri ketidakstabilan kronis seiring  seiring usaha militer melakukan kudeta. ”Pertama dalam sejarah Republik, kami mengubah sistem undang-undang berdasar politik sipil,” kata Erdogan, di pidato kemenangan.

Namun, oposisi tidak tinggal diam. Salah satu partai penentang, Partai Demokrasi Rakyat, mengeluhkan ada sekitar tiga juta kertas suara ilegal dan memengaruhi hasil. 

”Karena itu,  keputusan terpenting adalah, mengakhiri legitimasi suara dan mengurangi ketegangan dari pemilihan ini adalah membatalkan hasil pemilihan,” kata deputi chairman partai Bulent Tezcan.

Kemenangan Erdogan bakal membuat hubungan Turki dengan negara-negara Uni Eropa (UE) kian panas. Selama ini Turki dan UE memiliki kesepakatan untuk menampung para pengungsi Syria dan Iraq.

Erdogan menyatakan akan meninjau lagi kesepakatan itu setelah referendum. Salah satu pemicunya adalah tak kunjung dimasukkannya Turki sebagai anggota UE. 

Turki juga berang setelah beberapa negara UE menolak penyelenggaraan kampanye referendum di tempat terbuka. Turki memiliki lebih dari 2 juta diaspora di negara-negara Eropa.

Editor : Redjo Prahananda
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%