Efek Domino Kebijakan Kontroversial Donald Trump

Jumat, 17 Maret 2017 | 14:42
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
BELUM SELESAI: Demonstran saat menghelat aksi menentang Muslim ban yang dikeluarkan Donald Trump. (AFP)

INDOPOS.CO.ID - Stephen Mumford, professor metafisik dari Universitas Durham di utara Inggris punya banyak uang untuk dihambur-hamburkan. Pada Oktober 2016, Mumford memenangkan beasiswa dari penelitian yang dilakukannya. Dia suka traveling dan mengunjungi negara untuk liburan sekaligus mempresentasikan hasil penelitiannya.

Tahun ini, Mumford berniat mengunjungi beberapa konfrensi akademik di Amerika Serikat (AS). Namun kemudian, Donald Trump terpilih pada November 2016. Di bulan pertama pemerintahnya, Trump meluncurkan muslim ban untuk tujuh negara muslim. Pemerintahannya juga memberlakukan peraturan keras untuk imigran yang hendak masuk AS.

Mumford pun mendengar cerita yang dia tidak sukai. Seperti, guru muslim asal Inggris yang dipisahkan dari muridnya dan dipindahkan ke penerbangan lain agar tidak masuk AS. Atau, travellers yang diminta untuk menyerahkan ponselnya dan password media sosial mereka sebelum masuk AS.

Bulan lalu, Mumford membuat keputusan sulit: membatalkan semua perjalanannya ke AS. ”Saya tidak ingin pergi ke konfrensi jika orang lain tidak boleh masuk karena mereka bergabung dengan group tertentu,” katanya.

”Saya tidak bisa hanya berjalan dan berpikir, saya ok dan tidak memedulikan orang lain yang mungkin tidak lolos pemeriksaan karena dia Muslim. Jika itu saya lakukan maka saya bagian dari ketidakadilan itu,” sambungnya.

Apa yang dirasakan Mumford adalah cuilan efek domino dari kebijakan kontroversial Trump. Dan, Mumford tidak sendirian. Ribuan professor di seluruh dunia sudah berjanji untuk tidak melakukan perjalanan ke AS.

Tak hanya itu, sekolah-sekolah di Kanada yang selalu outing AS untuk menghadiri event pendidikan, musik, dan olahraga, membatalkan perjalanan mereka karena cemas bila ada siswanya yang tidak boleh masuk AS. Dan, daftar sekolah-sekolah itu semakin panjang.

Di Philadelphia, setidaknya satu konfrensi besar dengan pendapatan mencapai USD 7 juta sudah dibatalkan. Dewan Pariwisata New York baru-baru ini pun merevisi target kehadiran wisatawan internasional ke New York City. Target 2017 menjadi 300 ribu dari awalnya 400 ribu.

Kenyataan ini bikin ketar ketir industri pariwisata AS. SitusBOOKING ONLINE Kayak melaporkan kalau pencarian wisatawan asal Inggris ke kota-kota AS anjlok luar biasa. Dan, banderol hotel berbintang di San Francisco, New York, dan Las Vegas juga turun antara 32-39 persen.

Hopper, situs travel lain merilis data yang menunjukkan kalau pencarian penerbangan ke AS secara global turun rata-rata 22 persen. Tetapi memang tidak semua dipengaruhi oleh Trump. Banyak faktor tambahan lain yang berimbas pada turunnya kunjungan ke AS. ”Antara lain, melemahnya perekonomian global, menguatnya nilai tukar dollar, dan menurunnya kesukaan terhadap AS di mata komunitas internasional,” kata Adam Sacks, presiden Tourism Economics.

Tetapi tidak dipungkiri, pengaruh kebijakan kontroversial Trump memang mengambil andil besar. Salah satunya, Lori. Ibu dua anak dari Edmonton, Alberta, Kanada, itu rutin mengunjungi Twin Cities di Minnesota.

Namun setelah Trump melayangkan Muslim Ban, anak-anaknya melarang sang ibu untuk perpergian. ”Untuk anak lelaki pertama saya, itu adalah kemarahan. Sebagian besar temannya adalah imigran, anak-anak imigran, dan sebagian lainnya Muslim,” katanya. ”Untuk anak kedua saya yang berusia 11 tahun, kata Amerika dikonotasikan dengan kekerasan dan diskriminasi melawan warga tidak bersalah,” sambungnya. (BBC/tia)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%