Dua Bom Bunuh Diri Warnai 6 Tahun Perang Syria

Kamis, 16 Maret 2017 | 14:54
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
KONFLIK TAK BERKESUDAHAN: Seorang pejuang di Syria berdiri dengan latarbelakang bangunan hancur di Kota Daraa, selatan Syria, kemarin (15/3)

INDOPOS.CO.ID - Kemarin (15/3) tepat enam tahun perang Syria berkecamuk. Alih-alih mereda, perang yang meluluhlantakkan negara tersebut, tidak menunjukkan tanda-tanda bakal berhenti. Bahkan, kemarin dua bom bunuh diri meledak di Damaskus.

Salah satunya mengakibatkan 25 orang tewas dan belasan lainnya luka-luka. Belum ada pihak yang menyatakan diri bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Ledakan pertama terjadi di Palace of Justice atau gedung pengadilan utama di Damaskus. Pihak kepolisian sudah dikabari bahwa ada pelaku bom bunuh diri.

Mereka masih melakukan pencarian dan berusaha mencegahnya masuk ke gedung. Namun, pelaku ternyata berada di dalam dan meledakkan diri pukul 13.20 waktu setempat.  ”Ledakan itu terjadi saat area tersebut tengah dipenuhi pengacara, hakim, dan penduduk sipil yang mengakibatkan banyaknya korban,” ujar salah seorang penegak hukum senior Syria Ahmed al-Sayyid.

Bom kedua meledak di dalam sebuah restoran. Belum diketahui jumlah korban tewas maupun luka. Berdasar data UNHCR, sejak perang Syria meletus 15 Maret 2011, 500 ribu orang diperkirakan tewas. Di antara jumlah tersebut, 55 ribu adalah anak-anak. Lebih dari 5 juta penduduk Syria mengungsi ke negara lain. Mayoritas mengungsi ke Turki dan negara-negara Eropa. Sementara itu, 6,3 juta penduduk lainnya menjadi pengungsi di negeri sendiri.

Serangkaian bom membuat rumah-rumah mereka rata dengan tanah. Ada 3 juta anak-anak dan balita di Syria yang tidak pernah tahu kehidupan lain selain peperangan. Kelaparan juga terjadi di mana-mana. ”Perang Syria adalah bencana terburuk yang dibuat manusia sejak Perang Dunia Kedua (PD II, Red),” tegas Kepala Komisi Tinggi PBB untuk HAM Zeid Ra’ad al-Hussein.

Saat ini lebih dari separo rumah sakit dan fasilitas kesehatan publik di Syria tutup ataupun hanya difungsikan sebagian. Hampir dua pertiga petugas medis melarikan diri. Mereka ketakutan karena pengeboman itu tidak pandang bulu. Sepanjang tahun lalu saja, ada 338 rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang dibombardir. Mayoritas dilakukan oleh pasukan Presiden Syria Bashar al-Assad.  

”Sumber daya untuk membantu sistem perawatan kesehatan sangat terbatas dan akses obat-obatan serta peralatan medis juga kurang,” tutur Kepala Program Darurat di WHO Peter Salama. Assad belum menang, tapi dirinya tidak menunjukkan tanda-tanda bakal kalah atau menyerahkan kekuasaannya.

Sebab, dukungan Rusia sangat kuat. Pembicaraan damai antara pasukan oposisi bersenjata dan pemerintah juga jalan di tempat. Baik yang diprakarsai Rusia, Iran, dan Turki di Astana maupun yang digagas PBB. Pada Mei mendatang, pembicaraan damai di Astana kembali digelar. Itu pun jika tidak ada salah seorang pihak yang memboikot.

”Enam tahun yang mengerikan, tidak ada alasan untuk membiarkan pelaku kejahatan mengerikan di bawah hukum internasional yang terjadi di Syria tidak mendapatkan hukuman,” tegas Direktur Kampanye di Amnesty International Beirut Samah Hadid. (Reuters/CNN/CBSNews/sha/c16/any)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%