Trump Klaim Dicurangi, Menang Popular Vote jika Tak Ada Suara Ilegal

Jumat, 02 Desember 2016 | 15:26
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
SENYUM: Donald Trump

INDOPOS.CO.ID– Kecurangan terjadi pada pemilu presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS). Jutaan orang telah memberikan suaranya secara ilegal. Setidaknya begitulah klaim terbaru dari presiden terpilih Donald Trump. Menurut taipan 70 tahun itu, dialah yang memenangi popular vote. Bukan saingannya dari Partai Demokrat Hillary Clinton.

”Selain menang telak electoral college, saya juga menang popular vote jika kalian mengurangi jutaan orang yang memberikan suara secara ilegal (untuk Hillary Clinton Red),” cuit Trump di akun Twitter-nya Minggu (27/11). Seperti biasa, suami Melania tersebut tidak memberikan bukti-bukti atas tuduhannya. 

Karena penghitungan masih berlangsung, diperkirakan suara popular vote untuk istri mantan Presiden Bill Clinton tersebut bakal terus bertambah hingga mencapai 2,5 juta orang jika dibandingkan dengan suara dukungan secara nasional untuk Trump. Hal itu disebabkan negara-negara bagian dengan populasi besar seperti California masih melakukan penghitungan suara.

”Jauh lebih mudah bagi saya memenangkan yang disebut popular vote itu dibandingkan electoral collage dengan cara saya cukup kampanye di 3 atau 4 negara bagian daripada (kampanye) ke 15 negara bagian yang telah saya datangi,” tambah Trump dalam cuitannya. Namun, menurut dia, jika hal tersebut dilakukan, dirinya sama saja dengan melupakan negara-negara bagian yang kecil-kecil.

Electoral college berisi 540 perwakilan dari seluruh negara bagian di AS. Proporsi tiap negara bagian berbeda. Ada yang punya 3, ada juga yang lebih dari 10. Pemenang pilpres harus mengantongi minimal 270 suara di electoral college. Saat ini, Trump memperoleh 306 electoral votes. Tapi, Clinton menguasai popular votes.

Finalisasi perolehan suara electoral college dilakukan pada 19 Desember nanti. Pada saat itu, akan diputuskan apakah suara yang didapatkan Trump dan Clinton sah. Jika suara tersebut sah, Trump bakal secara resmi menjadi presiden AS menggantikan Barack Obama pada 20 Januari 2017.

Beberapa jam setelah mengunggah cuitan tersebut, Trump kembali menulis adanya kecurangan pemilih secara serius di Virginia, New Hampshire, dan California. ”Jadi,  kenapa tidak ada media yang memberitakan hal tersebut? Bias yang parah –masalah besar!” tulis bapak lima anak tersebut. Clinton menang di tiga negara bagian itu.

Itu bukan kali pertama Trump menuding terjadi kecurangan dalam pilpres. Jauh hari sebelum pemungutan suara dilakukan, Trump selalu menyatakan dalam kampanyenya bahwa terjadi kecurangan dalam sistem pemilu AS. Karena itu, jika dia kalah, dirinya telah dicurangi. Meski begitu, berbagai penelitian menunjukkan, tidak ditemukan bukti adanya kecurangan dalam pilpres AS.

Trump belakangan memang dibuat berang oleh permintaan penghitungan suara ulang yang dilakukan kandidat dari Green Party Jill Stein. Kuasa hukum Clinton pada Sabtu (26/11) setuju untuk berpartisipasi dalam penghitungan di Negara Bagian Wisconsin. Trump menyebut penghitungan suara itu menggelikan.

Sejak Sabtu, dia terus-menerus mengkritik langkah Stein untuk melakukan penghitungan ulang di Wisconsin, Michigan, serta Pennsylvania. Pada pilpres sebelumnya, tiga negara bagian tersebut selalu menjadi milik Partai Demokrat.

 Namun, dalam pilpres 8 November lalu, ketiganya condong ke Republik dengan memberikan suara untuk Trump. Stein menanggapi kritikan Trump dengan dingin. ”Dia sendiri (Trump Red) yang mengatakan bahwa terjadi kecurangan dalam pemilu kecuali dia yang memenanginya,” ujar Stein saat diwawancarai dalam acara Newsroom CNN. (AFP/Reuters/CNN/sha/c6/any/JPG)

Penulis : Penulis 1 Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%